Header Ads

header ad

GAWAT! 1.200 Karyawan Jadi Korban Terkena PHK Akibat Toko Ritel Berguguran


[lndonesia.org]  JAKARTA - Beberapa Industri ritel modern belakangan mulai banyak yang menutup gerainya. Di mana yang terbaru adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang telah menutup gerai Lotus pada 31 Oktober 2017 lalu.

Ketua Umum Asosais Pengusaha Ritel Modern Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan banyaknya perusahaan ritel yang tutup ternyata berdampak kepada tenaga kerja. Pasalnya dengan beberapa ritel yang tutup membuat beberapa perusahan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para karyawannya.

Meskipun belum bisa memastikan angka pastinya, namun Roy menaksir lebih dari seribuan karyawan yang terkena PHK. Dimana penyumbang terbesar berasal dari tutupnya gerai 7-Eleven.

"Kita belum dapat data, tapi kalau kayak Sevel itukan kita hitung ada 167 toko, kali 5 orang lah itu sudah 800-an ditambah dengan format yang lain, mungkin sudah sekitar 1.200 orang, itu dari Sevel dan dengan yang lain-lain," ujarnya, dikutip dari Okezone.com, Rabu (1/11/2017).

Meskipun begitu lanjut Roy, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terhadap PHK karyawan ritel yang tutup. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan dalam memikirkan nasib karyawan yang terkena PHK tersebut.

"Kita belum tahu, kita serahkan kepada pemerintah, untuk bantu memikirkan lah, kan kita enggak bisa memikirkan lagi, enggak mampu membayar," jelasnya.

Karena Aprindo tidak memiliki kebijakan khusus soal PHK, di mana semua aturan PHK sudah jelas mengikuti Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, Roy menyatakan kondisi ini seharusnya sudah menjadi alarm untuk pemerintah.

"Kami alert ke pemerintah bahwa bisnis ritel ini menyerap 4 juta tenaga kerja, bahkan kalau total hulu ke hilir bisa 14 juta tenaga kerja. Ini menempati porsi kedua dari jumlah tenaga kerja setelah agribisnis," tukasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta menyebut tumbangnya toko ritel bukan disebabkan oleh maraknya bisnis online. Menurutnya, ada banyak penyebab tutupnya toko ritel.

Dia menyebut, tutupnya ritel besar terjadi di lokasi yang memang tidak strategis dalam persaingan bisnis. Di sisi lain, kondisi daya beli masyarakat di wilayah tersebut memang sedang lesu.

"Bukan online faktor utama. Tapi terakhir yang dihebohkan dan dimunculkan online. Kebetulan Presiden kita ini senang dengan digital ini sehingga semua menterinya mencocokkan dengan online, online, online," ujarnya di Warung Daun, Cikini, Menteng, Jakarta, Sabtu (28/10), seperti dilansir dari Jawapos.com.

Dia menambahkan, di beberapa daerah juga terjadi penutupan toko ritel. Namun, banyak juga ritel yang membuka cabang baru.

"Tapi kalau buka-tutup toko itu sudah sering. Cuma antara lebih banyak buka atau lebih banyak tutup, pasti lebih banyak buka daripada tutup karena lokasi tidak cocok, salah ambil lokasi," tambahnya.

Lebih lanjut, diskon yang kerap dilakukan oleh ritel menjelang tutup dilakukan sebagai salah satu cara mengembalikan biaya operasional. Dengan demikian, kerugian yang dialami ritel tidak terlalu dalam.

"Semua pasti begitu," pungkasnya.  [lo/oz/jp]


loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.