Header Ads

header ad

700 Relawan Pospera Hadiri Pernikahan Kahiyang-Bobby, Jokowi Terlihat Inkonsisten


[lndonesia.org] - Lebih 700 relawan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) tiba di Solo, Jawa Tengah, Selasa pagi (7/11). Mereka datang untuk menghadiri acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution yang digelar, Rabu besok.

Ketua Umum Pospera, Mustar Bonaventura mengatakan bahwa kehadiran relawan Pospera atas undangan langsung dari Jokowi. Para relawan, kata dia, hadir dengan menggunakan 10 bus dan belasan unit ambulans.

"Kami juga diundang langsung Presiden Jokowi untuk mengikuti acara siraman, midodareni hingga acara puncak resepsi pernikahan," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu.

Mustar mengatakan bahwa sebagai relawan yang mendukung Jokowi di Pilpres 2014 lalu, Pospera mengaku turut berbahagia dan bersuka cita atas pernikahan Kahiyang-Bobby.

"Kami akan meramaikan acara mantuan Presiden sebagai wujud ungkapan rasa bahagia itu," ujar Mustar.

Rombongan Pospera berangkat dari posko yang terletak di Bumi Pospera, Cipinang Muara, Senin Sorepukul, Jakarta Timur, pukul 16.00 WIB. Adapun pengurus Pospera yang hadir berasal dari Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Yogya, Jatim dan 20 perwakilan se Indonesia.

Dilansir dari laman Rakyat Merdeka, Presiden Joko Widodo dinilai telah melangar komitmennya sendiri terkait banyaknya tamu yang diundang dalam resepsi pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution.

Saat memulai memimpin, Jokowi mengeluarkan kebijakan bahwa pejabat di tingkat pusat maupun daerah dilarang menggelar pesta berlebihan. Peraturan tersebut mulai diterapkan pada 1 Januari 2015.

Komisioner Komnas Ham Natalius Pigai menilai, sebagai orang tua Jokowi mempunyai tanggung jawab untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya. Hal ini patut dihargai dan diapresiasi.

Namun demikian, Pigai menilai terdapat sejumlah pelajaran dari resepsi yang dilakukan di Graha Saba Buwang Solo pada 8 November 2017 itu.

Pertama mengenai inkonsisten Jokowi terhadap peraturan yang pernah dibuatnya. Menurut Pigai, Jokowi telah mengingkari peraturan yang dibuatnya, dan hal itu merupakan pelanggaran.

"Dari sisi etika, seorang presiden menyelenggarakan resepsi besar-besaran dengan menabrak aturan dan komitmen pemerintah," ujar Pigai kepada kantor berita politik RMOL, Minggu (5/11).

Pelajaran yang kedua, Pigai menilai, revolusi mental yang digaungkan Jokowi tidak terlihat dalam acara tersebut.

Jokowi lebih cenderung terlihat hedonis yang mau memamerkan kewewahan, kekayaan di tengah situasi ekonomi nasional yang sedang mengalami goncangan.

Menurut Pigai, sangat tidak elok Jokowi menyelenggarakan acara begitu megah dan besar di tengah keterpurukan ekonomi.

"Presiden Jokowi tentu tahu bahwa banyak supermarket, mall ditutup karena terancam bangkrut karena daya beli masyarakt rendah. Sarjana sudah tidak lagi mendapat kesempatan pekerjaan yang baik sehingga orientasi mereka menjadi tukang ojek online," ujarnya.

lebih lanjut Pigai menilai sangat wajar jika revolusi mental ala Jokowi tidak berjalan mulus lantaran tindakan yang dilakukan Jokowi sendiri.

Menurutnya, kebijakan Jokowi tentang revolusi mental sangat baik, terlebih dalam buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis, menjelasakan bahwa salah satu kelemahan Indonesia adalah mental hipokrit atau munafik.

"Revolusi mental itu salah satunya menghapus gaya hipokrit, tetapi Jokowi sendiri menunjukkan pertentangan. Dalam situasi begini bisa dikatakan revolusi ental tidak jalan karena jokowi," ujarnya.

Pigai menambahkan sudah pantas jika Jokowi mendapat sanksi sosial mengenai langkah yang dilakukannya seperti menabrak aturan yang dibuat sendiri dan menabrak etika revolusi mental dan cinderung hedonistik.

Dirinya juga berharap para politisi ikut memberikan kritik kepada Jokowi terkait rencana yang akan dilakukannnya.

"Para politikus jangan buta jangan diam. Minimal mengingatkan pemerintah tentang ini," pungkas Pigai. [ln/rmol]
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.