Header Ads

header ad

Heboh Jelang Pelantikan! Beredar Biografi Anies Baswedan ‘Dosen yang Jadi Gubernur DKI’


Lahir dari keluarga pendidik, membuat kata ‘pendidikan’ selalu diidentikkan dengannya. Bahkan, namanya pun melejit bersama idealisme pendidikannya lewat program ‘gila’ yang ia inisiasi pada tahun 2009, Indonesia Mengajar.

48 Tahun lalu, Anies Rasyid Baswedan dilahirkan dari keluarga pengajar. Ayahnya, Rasyid Baswedan, adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sedangkan ibunya, Aliyah Rasyid, tercatat sebagai guru besar dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Negeri Yogyakarta.

Bagaimana tidak ‘gila’, mengirimkan anak-anak muda terbaik untuk mengabdi selama satu tahun di pelosok negeri. Dijauhkan sementara dari majunya teknologi dan keluarga, hanya untuk misi yang disebut pengabdian.

Program ini dinilai cerdas, inspiratif, dan menantang –terlebih bagi anak muda yang idealis nasionalis–. Sejak saat itu nama Anies Baswedan, sang penggagas, segera melejit dan ‘didewakan’ di kalangan anak muda yang tengah menggebu-gebu ingin menyalurkan pengabdiannya.

“Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi bertanyalah apa yang kau berikan bagi negaramu.”
Entah siapa yang mengucapkannya pertama kali. Yang jelas, kalimat itu selalu didengungkan seiring dengan gencarnya gerakan Indonesia Mengajar.

Indonesia Mengajar bukan satu-satunya prestasi Anies di bidang akademik. Tahun 2007, menjadi momen penting di mana ia dilantik sebagai rektor termuda di Indonesia pada usia 38 tahun.

Sebagai rektor, ia membuat berbagai macam gebrakan. Termasuk, program beasiswa yang menggandeng Mien R Uno –Ibunda Sandiaga Uno, yang kelak, 10 tahun kemudian, menjadi pasangannya di kancah politik– sebagai pendonor.

Kenyang bergelut di bidang pendidikan dan sosial, tahun 2013 Anies mulai menjajal peruntungan di politik dengan mengikuti konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada 27 Agustus di tahun yang sama.

Keputusannya itu menuai kritik hingga sindiran lantaran konvensi bagi sebagian orang, saat itu hanya dianggap sebagai cara Demokrat memulihkan nama baik pasca beberapa kadernya terjerat korupsi. Tapi Anies tampil seperti sudah mantap.

Anies, yang bukan kader Partai Demokrat, pun bukan politikus, mengikuti seluruh rangkaian konvensi dengan baik. Anies bahkan menelurkan gagasan yang diberi nama “Indonesia Kita Semua,” di mana semua orang ikut terlibat mengurus negeri, ikut turun tangan –yang kemudian direalisasikan dalam gerakan TurunTangan–.

Tapi seperti bisa diduga saat itu, konvensi tak menghasilkan apapun. Alih-alih mengusung capres, Demokrat si penggagas konvensi ikut bersama Gerindra dkk sebagai pengusung Prabowo-Hatta di Pilpres 2014.


Karier politik Anies terus berjalan hingga tahun 2014, ia didapuk sebagai Juru Bicara Capres-Cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Jokowi-JK pun berhasil mengambil suara rakyat sebanyak 53,15 persen, mengalahkan lawannya, Prabowo-Hatta yang meraup 46,85 persen suara.

Anies lalu didaulat sebagai salah satu Deputi Rumah Transisi Jokowi-JK yang bertugas menyiapkan kabinet kerja. Ia sendiri, kemudian diberi peran sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tidak jauh dari latar belakang yang telah mendarah daging baginya.

Saat menjabat mendikbud, banyak terobosan yang ia lalukan. Termasuk, penundaan kurikulum 2013 di beberapa sekolah yang dianggap belum sanggup, mengubah Ujian Nasional yang tak lagi menjadi tolak ukur kelulusan, program sertifikasi dan kompetensi guru, serta penghapusan Masa Orientasi Siswa.

Sayang, kariernya sebagai menteri harus terhenti saat namanya masuk dalam deretan menteri yang direshuffle, tak jelas apa alasan Presiden saat itu. Lalu nama Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, dipilih untuk menggantikan posisinya.

Rehat dari kesibukan sebagai menteri, Anies menepi dari hiruk pikuk politik. Namun dalam beberapa bulan kemudian, sosoknya ternyata diperhitungkan dalam bursa calon gubernur DKI, meski tak punya cukup modal elektabilitas.

Adalah seorang Sandiaga Uno, kawan dekat Anies, seorang pengusaha yang belum lama berkecimpung di dunia politik di Partai Gerindra. Nama Sandiaga, awalnya sudah lebih dulu disiapkan menjadi calon gubernur oleh Partai Gerindra dan PKS.

Namun, posisinya sebagai calon gubernur harus turun, saat nama Anies –yang baru berpisah dari kabinet kerja Jokowi-JK– muncul. Pasangan Anies-Sandi pun baru disepakati di saat terakhir, satu hari menjelang batas akhir pendaftaran.

Perjalanannya di ajang Pilgub DKI tidak bisa disebut mulus. Lawannya, paslon nomor satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, paling tidak namanya lebih familiar di kalangan masyarakat. Siapa yang tidak kenal Agus, putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

Meski masih baru di dunia politik, karier sang ayah yang dua periode menjabat sebagai presiden, menjadi nilai tambah bagi Agus. Berderet prestasi saat masih di militer, juga menjadi poin tambah yang ia jual.

Belum lagi, peran sang wakil, Sylviana, yang sudah malang melintang di dunia birokrasi DKI selama belasan tahun. Anak muda dan wanita berpengalaman, keduanya bertemu dalam sosok paslon nomor satu.

Lain halnya dengan paslon nomor dua, sang petahana. Saat ‘naik jabatan’ menggantikan Jokowi yang juga ‘naik jabatan’ menjadi Presiden, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sudah lebih dulu diperhitungkan dan disiapkan menjadi gubenur 2017-2022.

Dibenci sekaligus disayang, mungkin itulah yang cocok untuk menggambarkan si putra Belitung yang kini mendekam di tahanan. Sosoknya begitu kuat, lekat dalam benak masyarakat tak hanya di Jakarta.

Lalu dipasangkan dengan sang putra Jawa, Djarot Saiful Hidayat. Perpaduan keduanya bagaikan Yin Yang dalam filosofi China, kontras namun selaras.

Siapalah pasangan Anies-Sandi, nomor urut buncit yang awalnya selalu menempati peringkat di belakang, jauh dari kedua paslon lainnya. Keduanya memang populer, namun di bidangnya masing-masing, belum cukup untuk merangkul seluruh warga yang beragam.

Hampir semua lembaga survei menempatkannya di posisi buncit. Kerja kerasnya bersosialisasi, pada awalnya hanya memberikan sedikit kenaikan pada grafik kepopulerannya.

Grafiknya baru naik pesat setelah Sang Petahana, Ahok, dianggap bluinder saat berpidato di Kepulauan Seribu bicara soal politik dan agama. Tak ayal, nama Anies-Sandi –yang awalnya tak diperhitungkan– bisa lolos ke putaran kedua, bersaing ketat dengan sang petahana. Pelan tapi pasti, keduanya berusaha berebut suara paslon yang tersingkir.

Ada yang bilang, keduanya ‘beruntung’ karena dinilai lebih bersih dari isu negatif. Lembaga-lembaga survei, berlomba memenangkan keduanya dalam survei elektabilitas yang dirilis.

Dan memang benar, Sang Kuda Hitam, dua nama yang tak pernah dipertimbangkan sebelumnya, kini berhasil merebut tahta tertinggi di Ibu Kota. Anies Baswedan-Sandiaga Uno dua hari lagi akan lebih banyak menghiasi wajah media sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Masyarakat DKI menunggu perubahan-perubahan yang dijanjikan selama masa kampanye. Selamat bekerja, Pak Anies dan Pak Sandi!

Sumber

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.